Pendahuluan
Kemampuan anak untuk berbicara adalah salah satu hal yang paling ditunggu oleh orangtua. Seringkali orangtua resah dan gelisah bila anaknya tak kunjung dapat berbicara. Bagi anak sendiri, belajar bicara merupakan tugas yang sangat kompleks dan cukup sulit. Untuk dapat bicara anak harus mempelajari banyak kosa kata, menyusunnya ke dalam kalimat dengan struktur yang benar, dan kemudian menggunakan alat bicaranya untuk mengucapkan kalimat yang dimengerti oleh orang lain. Banyak unsur yang terlibat di dalamnya, antara lain panca indera, kemampuan kognitif, dan kesiapan alat bicaranya. Selain itu, kemampuan bicara juga dipengaruhi oleh faktor psikologis. Menurut Mukalel ada empat faktor psikologis yang memengaruhi proses mempelajari bahasa (2003:60), yaitu intelligence, resourcefulness, creativity, dan motivation.
Intelligence (inteligensi)
Ada banyak sekali definisi tentang inteligensi. Sebagian besar definisi yang ada merujuk kepada kemampuan berpikir, termasuk kemampuan berpikir abstrak dan simbolik, kemampuan menggunakan pikiran untuk beradaptasi dan mengontrol lingkungan, termasuk lingkungan sosial, serta kematangan kepribadian. Bahasa merupakan proses mental yang kompleks, bersifat abstrak dan simbolik, serta digunakan untuk beradaptasi dan mengontrol lingkungan dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, perkembangan bahasa sangat dipengaruhi oleh inteligensi.
Secara umum, kemampuan berbahasa seseorang dapat mengungkapkan tingkat inteligensinya. Meskipun demikian, bukan berarti seorang anak yang lebih cepat belajar berbicara memiliki inteligensi yang lebih tinggi daripada anak yang lebih lambat belajar bicara, karena inteligensi hanyalah salah satu faktor yang menentukan kemampuan pemerolehan bahasa. Meskipun manusia memiliki kemampuan internal untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan bahasa, inteligensi dan bahasa hanya dapat berkembang setelah adanya interaksi antara anak dengan lingkungan di sekitarnya.
Inteligensi mengontrol kecepatan, intensitas, dan kedalaman pemerolehan bahasa. Anak dengan inteligensi tinggi lebih cepat dalam memahami dan menginternalisasi bahasa orang dewasa. Mereka dapat menggunakan kesempatan dan stimulasi dari lingkungan untuk menyerap dan memahami bahasa. Inteligensi juga memengaruhi kemampuan anak untuk menghubungkan pengalamannya dengan bahasa yang tepat.
Sebagai ilustrasi, dalam memahami objek “mobil”, panca indera mengirimkan sinyal-sinyal ke otak yang akan membentuk image dan konsep tentang mobil. Bersamaan dengan itu, anak mendengar kata “mobil”. Selanjutnya anak menghubungkan image dan konsep tentang mobil ini dengan kata “mobil” untuk memahami bahawa objek dengan image dan konsep seperti itu disebut mobil. Proses ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan inteligensi.
Inteligensi juga berhubungan dengan memori. Oleh karena itu, bahasa yang merupakan manipulasi simbol-simbol sangat dipengaruhi oleh kekuatan memori untuk menyimpan dan memanggil kembali simbol-simbol tersebut. Semakin tinggi inteligensi, semakin terorganisir kemampuan anak dalam menyimpan informasi dan semakin cepat memori dapat melakukan proses pengenalan dan pemanggilan kembali.
Resourcefulness (Kepanjangan Akal)
Individu yang memiliki kepanjangan akal yang baik adalah individu yang dapat menggunakan akalnya untuk beradaptasi dengan berbagai keadaan dalam lingkungan. Individu ini dapat menggunakan kemampuan berbahasanya untuk dapat diterima dalam lingkungannya.
Kepanjangan akal juga berkaitan dengan inteligensi. Perpaduan kepanjangan akal dan inteligensi yang tinggi membuat seseorang dapat menggunakan kemampuan berbahasa untuk mengatasi berbagai situasi dalam berinteraksi sosial.Ia dapat mengidentifikasi bahasa yang harus digunakan, waktu menggunakannya, dan cara menggunakannya secara tepat dalam berinteraksi. Dengan demikian, ia dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya, atau bahkan dapat menggunakan kemampuan berbahasanya untuk mengontrol atau mengubah lingkungannya menjadi lebih baik. Anak yang memiliki resourcefulness tinggi biasanya dapat mempelajari banyak bahasa tanpa mengalami kesulitan yang berarti.
Kreativitas
Esensi dari kreativitas adalah kemampuan berpikir dengan cara yang berbeda dari cara berpikir tradisional, atau melakukan sesuatu hal yang memiliki aspek baru atau sesuatu yang tidak biasa. Otak anak yang kreatif senantiasa aktif dan seringkali memunculkan hal-hal baru yang menakjubkan. Mereka dapat mengorganisasi sesuatu dengan cara yang baru, menemukan hal-hal baru dari suatu objek, atau menemukan cara berpikir yang baru.
Salah satu bentuk perilaku kreatif adalah produksi bahasa. Manusia memiliki kemampuan untuk menuangkan kreativitas dalam berbahasa. Dengan kreativitas manusia dapat mengutarakan suatu hal dengan berbagai cara yang berbeda. Kreativitas tinggi dalam berbahasa dapat menciptakan pencapaian yang hebat, seperti menjadi penulis terkenal, novelis, atau pembuat script film.
Motivasi
Setiap usaha yang dilakukan dengan sengaja oleh manusia memerlukan faktor pendorong yang disebut motivasi. Mukalel mendefinisikan motivasi sebagai “the powerful pull towards a goal, which an individual experiences (2003:69). Semakin tinggi motivasi, semakin tinggi kekuatan, antusiasme, dan semangat untuk mencapai tujuan.
Bayi lahir sebagai makhluk tak berdaya yang membutuhkan pertolongan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, sejak lahir bayi telah memiliki motivasi intrinsik untuk dapat mengkomunikasikan kebutuhan dasarnya berupa makanan, kehangatan, perlindungan, dan pengasuhan. Hal ini diwujudkan dalam tangisan pra linguistik.
Dalam perkembangannya, kebutuhan bayi semakin berkembang, tidak lagi terbatas kepada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga pemenuhan kebutuhan emosional dan sosial. Untuk dapat berinteraksi dengan orang di sekitarnya, dan untuk mengekspresikan kebutuhan emosionalnya, bayi membutuhkan bahasa. Hal ini memberikan motivasi intrinsik bagi bayi untuk mempelajari bahasa yang berlaku di lingkungan sekitarnya.
Semakin berkembang anak, kebutuhan mengekspresikan diri juga semakin meningkat. Kebutuhan ekspresi diri menjadi motivasi intrinsik untuk mempelajari dan mengembangkan bahasa. Dengan penguasaan bahasa yang semakin berkembang, anak dapat mengekspresikan keberadaan dirinya, potensi, ide, dan pendapatnya.
Hal penting yang perlu disadari orangtua adalah motivasi intrinsik dapat muncul bila ada rangsangan dari orang di sekitarnya. Bila usaha anak untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri tidak mendapatkan tanggapan atau penghargaan dari orang di sekitarnya, maka anak tidak akan melanjutkan usahanya tersebut dan selanjutnya tidak termotivasi untuk mengembangkan kemampuan berbahasanya
Implikasi pada Pendidikan Anak Usia Dini
Keempat faktor psikologis yang disebutkan di atas tidak berdiri sendiri dalam memengaruhi kemampuan berbahasa. Bisa jadi anak yang memiliki inteligensi tinggi tetapi motivasi berbicaranya rendah memiliki kemampuan berbahasa yang lebih rendah daripada anak yang memiliki inteligensi lebih rendah, tetapi motivasinya lebih tinggi. Keempat faktor psikologis ini juga membutuhkan interaksi dengan lingkungan sekitarnya untuk berkembang. Cohan mengatakan, “a child must hear (or see, in the case of a sign language) a language in order to learn/acquire it” (1999:95).
Orangtua/pengasuh memiliki peran yang sangat besar dalam membantu anak mempelajari bahasa. Sejak awal orangtua/pengasuh harus dapat mengajak anak berkomunikasi, memahami tanda-tanda komunikasi yang diberikan anak, menanggapinya dengan cara yang tepat, serta menunjukkan kepada anak bahwa orangtua/pengasuh menghargai usahanya tersebut. Sebagai contoh, pada saat anak menunjuk sesuatu, orangtua/pengasuh harus cepat memikirkan apa yang ingin dikomunikasikan anak dan memberikan tanggapan yang tepat. Misalkan anak menunjuk kepada bolanya yang jatuh, maka orangtua/pengasuh dapat mengatakan, “O, bola Andi jatuh.”. Hal ini membantu anak mengaitkan peristiwa bolanya yang jatuh dengan pernyataan “Bola Andi jatuh”.
Tanggapan positif dari lingkungan sangat diperlukan anak usia dini untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya. Cohen mengatakan “Children in linguistically supportive environment continue to receive feedback on their communication, and learn thereby how to design messages so that they communicate what the children intended (1995:98). Selain itu, tanggapan yang serius dan bermakna akan memberikan motivasi bagi anak untuk berkomunikasi.
Tanggapan dan cara berbicara orangtua/pengasuh kepada anak perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan bahasa anak. Pada anak usia dini, kata-kata yang dipilih adalah kata-kata yang mudah diucapkan, sederhana, dan mencerminkan objek/situasi dalam lingkungan anak. Dalam membantu anak mengaitkan bunyi dengan objek yang tepat, maka orangtua/pengasuh dapat memberikan tekanan kepada kata yang ingin dipelajari anak. Pengucapan juga harus jelas dan tidak terlalu cepat sehingga anak dapat mendengar bunyinya dengan tepat. Tata bahasa yang digunakan adalah tata bahasa yang sederhana dan pendek, mengikuti tingkat perkembangan anak. Semakin berkembang kemampuan berbahasa anak, maka bahasa yang digunakan orangtua/pengasuh juga semakin kompleks.
Anak usia dini masih dalam proses mengembangkan bahasa. Oleh karena itu sangat wajar apabila anak masih sering melakukan kesalahan. Tugas orangtua/pengasuh adalah mengoreksi dengan mengucapkan kata/kalimat yang benar, tetapi koreksi harus diberikan secara berhati-hati jangan sampai membuat anak merasa disalahkan dan tidak mau lagi berbicara karena takut salah.
Untuk meningkatkan kreativitas, pada saat anak sudah dapat berbicara dengan baik, orangtua/pengasuh bisa mengajak anak bermain kata-kata, misalnya bermain membuat kalimat, menyambung kata, atau mencari kata yang berakhiran sama, atau mencari kata yang diawali dengan huruf tertentu. Misalnya orangtua mengatakan “Andi bermain …….”. Anak melanjutkan dengan kata-kata yang dipilihnya sendiri, seperti bola, mobil-mobilan, pasir. Meskipun demikian, permainan ini harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan kognitif anak.


Leave a comment