Ada banyak anak yang setiap kali dihadapkan dengan soal matematika selalu mengatakan, “Aku sih nggak pintar matematika. Mau dijelaskan seperti apapun, aku nggak mungkin bisa. Udah dari ‘sananya’.” Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa anak merasa sudah ditakdirkan untuk tidak bisa matematika, dan takdir itu tidak bisa diubah dengan cara apapun. Meskipun itu mungkin hanya sekedar alasan anak untuk menghindari belajar matematika, tetapi pada kenyataannya banyak orantua yang merasa khawatir anaknya tidak ‘berbakat’ di bidang matematika. Hal ini mengundang pertanyaan, “Apakah memang betul kecerdasan matematika hanya dipengaruhi oleh ‘gen’ yang sudah tertanam sejak lahir?”
Kecerdasan logika matematika merupakan salah satu kecerdasan jamak yang diperkenalkan oleh Howard Gardner. Secara sederhana kecerdasan logika matematika dapat dikatakan sebagai kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan memanipulasi angka dan menggunakan logika matematika dalam memecahkan masalah. Logika matematika digunakan untuk mengidentifikasi hubungan-hubungan dari berbagai informasi yang terpisah serta untuk mengembangkan pola berpikir dalam kehidupan sehari-hari. Menarik untuk disimak adalah pernyataan Gardner berkaitan tentang kecerdasan logika matematika: “This form of thought can be traced to a confrontation with the world of objects”[1]. Pernyataan Gardner tersebut menekankan adanya interaksi dengan objek nyata (confrontation with the world of objects). Sousa menambahkan bahwa “a person’s combined intellectual capability, then, is the result of innate tendencies (the genetic contribution) and the society in which that individual develops (the environmental contribution)”[2]. Kombinasi kemampuan intelektual seseorang merupakan hasil kombinasi dari kecenderungan bawaan (kontribusi genetik) dan lingkungan sosial tempat orang tersebut hidup (kontribusi lingkungan).
Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa kecerdasan logika matematika berkembang sebagai hasil dari interaksi manusia dengan objek dalam dunia nyata. Melalui interaksi ini anak dapat mengenal objek tersebut secara fisik, mengenal tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terhadap objek tersebut dan pengaruh tindakannya terhadap objek tersebut, dan akhirnya mampu mengambil kesimpulan. Misalkan anak bermain dengan air dan beberapa gelas plastik berbeda ukuran. Dalam bermainnya tersebut anak dapat mempelajari bahwa ia dapat memasukkan air ke dalam gelas plastik. Selain itu ia juga dapat melihat bahwa apabila gelas telah penuh tetapi ia tetap menuangkan air, maka air akan tumpah. Ia juga belajar bahwa ia dapat memindahkan air dari satu gelas ke gelas yang lain, tetapi ternyata ada kalanya pada saat ia memindahkan air dari gelas tertentu ke gelas lainnya, ternyata gelas tersebut tidak penuh, tetapi sebaliknya ada kalanya juga pada saat ia memindahkan air dari gelas tertentu ke gelas yang lain, ternyata airnya tumpah karena gelasnya tidak cukup besar untuk menampung air. Secara tidak langsung anak sedang mempelajari konsep volume dan konsep perbandingan.
Perkembangan kecerdasan logika matematika sangat dipengaruhi oleh kesempatan terjadinya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, ketersediaan objek untuk dimainkan dan adanya stimulasi yang dapat membuka interaksi antara anak dengan objek tersebut menjadi salah satu faktor yang menentukan perkembangan kecerdasan logika matematika. Hal ini menunjukkan bahwa orangtua dapat menstimulasi kecerdasan logika matematika anak sejak usia dini dengan memberikan kesempatan anak untuk berinteraksi dengan berbagai objek yang dapat membuka wawasan anak. Tidak cukup hanya dengan menyediakan alat dan kesempatan, tetapi orangtua juga perlu mendampingi anak dan mengajak anak berdiskusi dalam interaksinya tersebut.
Ada banyak hal sederhana yang bisa dilakukan dengan anak dalam kegiatan sehari-hari. Sebagai contoh, dalam berbelanja ibu dapat mengajak anak membuat daftar belanja, memberi cek list pada barang yang sudah dibeli, menghitung barang pada saat memasukkannya ke dalam keranjang belanja, dan mendiskusikan barang yang dicari, misalkan warna atau ukuran yang tepat. Contoh lain adalah pada saat mengangkat baju dari jemuran. Ibu dapat mengajak anak mengelompokkan baju berdasarkan jenisnya, berdasarkan warnanya, atau berdasarkan pemiliknya. Dapat pula dilakukan sambil berdiskusi bahwa baju ibu lebih besar daripada baju anak, ibu tidak bisa menggunakan baju anak karena terlalu kecil, atau ibu bisa menjangkau jemuran yang tinggi karena ibu lebih tinggi dari anak. Dalam kesempatan lain, misalnya orangtua membeli makanan, maka anak dapat diajak membandingkan jumlah makanan dengan orang yang ada, apakah makanan cukup atau kurang, atau berapa jumlah yang didapat oleh masing-masing orang. Hal-hal yang sederhana ini dapat membantu anak untuk sejak dini, secara tidak sadar, mempelajari berbagai konsep matematika yang akan mempermudah mereka pada saat mereka mempelajari konsep tersebut secara formal di sekolah.
[1] Howard Gardner. Frames of Mind, The Theory of Multiple Intelligences. Tenth-anniversary edition. (New York: BasicBooks.1993). Hlm.129
[2] David A. Sousa. How the Brain Learns Mathematics. (Thousand Oaks: Corwin Press. 2008). Hlm.32


Leave a comment