Pentingnya Bermain pada Anak Usia Dini

Dunia anak usia dini adalah dunia bermain. Berbeda dengan anak-anak usia sekolah yang harus membagi waktu bermain mereka dengan aktivitas belajar formal di sekolah, anak usia dini menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk bermain. Hal ini mengundang pertanyaan, apakah mereka menghabiskan waktu dengan sia-sia? Apakah dengan bermain itu mereka hanya mendapatkan kesenangan?

Bermain vs Rekreasi

Menurut seorang pakar pendidikan bernama Tina Bruce (2005:228-231)[1], bermain tidak sama dengan rekreasi. Bermain merupakan ‘high levels of learning’ sementara rekreasi hanya merupakan kegiatan relaksasi yang tidak banyak menggunakan proses berpikir. Jadi, meskipun dari luar anak terlihat sedang bersenang-senang, ternyata pada saat bermain sebetulnya anak sedang mengalami suatu proses pembelajaran tingkat tinggi.

Bruce meyakini bahwa dengan bermain, anak belajar untuk menghadapi dunia nyata. Melalui bermain anak dapat mengatur ulang kehidupan mereka, melakukan pelatihan untuk masa depan, merefleksikan masa lalu, menjadi kreatif dan imajinatif, mengorganisasi sendiri proses pembelajaran mereka. serta memiliki kontrol terhadap pemikiran, perasaan, hubungan dan fisik mereka sendiri. Sebagai contoh ketika sedang bermain boneka, bermain robot-robotan, atau bermain peran dengan temannya, anak dapat mengulang pengalaman/peristiwa yang sudah dialami/dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya anak ikut berbelanja ke supermarket dan memperhatikan aktivitas di kasir. Sesampainya di rumah, bisa jadi ibunya akan bingung melihat anak itu tiba-tiba mengambil banyak barang, mendekatkan ke sebuah kotak, dan kemudian memasukkannya ke dalam plastik. Sebetulnya anak itu sedang merekonstruksi peristiwa yang dilihatnya tadi. Kotak ia simbolkan sebagai mesin kasir.

Melalui rekonstruksi ini, anak mencoba memahami peristiwa itu sendiri, memahami hubungan antara barang dengan mesin kasir, dan memahami proses peristiwa tersebut. Pada tahap selanjutnya, bisa jadi anak mengembangkannya dengan mengajak ibunya atau orang lain ikut serta sebagai pembeli.

Bruce juga mengatakan bahwa bermain adalah suatu proses, yaitu proses yang memungkinkan ide-ide, perasaan dan relationship mengalir dan membuka pikiran anak-anak. Free-flow play (bermain bebas) yang berasal dari ide anak sendiri dapat membantu anak-anak untuk menggunakan pengetahuan yang sudah mereka miliki ke dalam berbagai situasi baru dalam konteks bermain yang aman dan terlindungi.

Kegiatan bermain yang dapat memberikan pengaruh positif bagi tumbuh kembang anak memiliki beberapa kriteria. Hal ini dapat dilihat dari definisi bermain yang dikemukakan oleh Rubin (1983)[2]: yaitu:

  1. Bermain berawal dari motivasi diri untuk mencapai kepuasan. Motivasi ini menyatu dalam kegiatan bermain, dan tidak dikendalikan oleh tuntutan sosial.
  2. Anakyang sedang bermain fokus kepada aktivitas bermain itu sendiri dan tidak memikirkan tujuan ia bermain. Perilaku mereka dalam bermain adalah perilaku yang spontan, sesuai dengan dorongan dan keinginan hati mereka.
  3. Anak-anak bermain dengan menggunakan objek yang sudah dikenal. Meskipun objek tersebut sudah dikenal, anak seringkali melakukan berbagai eksplorasi baru terhadap objek tersebut. Misalnya pada awalnya bola hanya dipegang di tangan, kemudian ia menemukan bahwa bola bisa dilempar, bisa diputar, dan bisa dimasukkan ke dalam lubang. Selain itu, anak juga bermain dengan objek yang belum dikenal untuk mengeksplorasi objek tersebut. Ini merupakan salah satu cara anak untuk mengenal konsep tentang objek tersebut.
  4. Aktivitas bermain bisa dilakukan tanpa menggunakan kata-kata.
  5. Aktivitas bermain terbebas dari aturan-aturan yang dibuat oleh orang lain. Jika memang dalam permainan ada aturan yang berlaku, maka aturan tersebut dapat dimodifikasi oleh anak-anak yang melakukan aktifitas bermain itu.
  6. Bermain membutuhkan keterlibatan aktif para pemainnya. Jadi, pada saat aktivitas bermain bukan merupakan inisiatif anak, melainkan dari orang lain atau orangtua, maka anak perlu dimotivasi untuk ikut aktif dalam bermain supaya anak mendapatkan manfaat positif dari bermain tersebut.

Selain manfaat untuk perkembangan kognitif, tentunya bermain juga membantu anak untuk mengembangkan kemampuan sosialnya, terutama pada saat anak sudah berada pada tahap bermain dengan orang lain, atau bermain peran. Dalam bermain anak bisa mempelajari antara lain cara bersosialisasi, berkomunikasi, saling menghargai, dan saling berbagi.

Mengingat banyak sekali manfaat yang bisa didapat anak dalam bermain, maka orangtua perlu mendukung kegiatan bermain anak. Alangkah baiknya bila orangtua dapat mengobservasi kegiatan bermain anak sehingga dapat berperan serta meningkatkan makna dari kegiatan bermain yang sedang dilakukan anak. Misalnya, dengan memahami situasi yang sedang diciptakan anak dalam bermain, maka orangtua dapat ikut membantu memberikan bimbingan atau ide-ide baru yang dapat meningkatkan pemahaman anak terhadap situasi yang diciptakannya tersebut. Orangtua juga dapat mengarahkan permainan anak, asalkan tidak mengubah esensi permainan itu sendiri. Dalam tahap lebih lanjut, melalui observasi orangtua dapat mengenali ketertarikan anak pada suatu konsep atau situasi tertentu, dan dapat secara halus menggunakan ketertarikan ini untuk memasukkan konsep atau pembelajaran yang orangtua ingin perkenalkan.

[1] Tina Bruce and Carolyn Meggit. Child Care and Education. London:2005

[2] Olivia N. Saracho. Bernard Spodek. Multiple perspective on play in early childhood education. New york:1998. Hal.3-4

One response to “Pentingnya Bermain pada Anak Usia Dini”

  1. Artikel menarik, menguaknkesalahan persepsi orang tua selama ini.

    Like

Leave a comment